Strategi Menerapkan Pendidikan Karakter di Lembaga Pendidikan Terbaru

Tips Pendidikan - Pendidikan karakter merupakan pendidikan yang ditekankan di Indonesia saat ini. Alasan tersebut dikarenakan problem moral penduduk di Indonesia sudah sangat fatal. Sehingga hal ini menjadikan pemerintah harus lebih serius menangani problem pendidikan tersebut.

Pada tahun 2011, menteri pendidikan dan kebudayaan (MENDIKBUD) mulai menghimbau untuk menerapkan Pendidikan Karakter di seluruh lembaga pendidikan di Indonesia. Menurut Wikipedia Pendidikan Karakter merupakan bentuk kegiatan manusia yang di dalamnya terdapat suatu tindakan yang mendidik diperuntukkan bagi generasi selanjutnya. Tujuan pendidikan karakter adalah untuk membentuk penyempurnaan diri individu secara terus-menerus dan melatih kemampuan diri demi menuju kearah hidup yang lebih baik.

Strategi Menerapkan Pendidikan Karakter di Lembaga Pendidikan

Strategi Menerapkan Pendidikan Karakter di Lembaga Pendidikan

Lantas bagaimana Strategi Menerapkan Pendidikan Karakter di Lembaga Pendidikan? Penerapan pendidikan karakter dapat dilakukan dengan strategi pengintegrasian yaitu memadukan, menggabungkan, atau menyatukan antara kepentingan guru dengan peserta didik melalui sebuah program kegiatan. Strategi tersebut dilakukan melalui 2 cara, yaitu pengintegrasian dalam kegiatan sehari-hari dan pengintegrasian dalam kegiatan yang diprogramkan.

Pengintegrasian dalam kegiatan sehari-hari dapat dilakukan melalui cara berikut:

1.    Keteladanan atau contoh

Kegiatan pemberian keteladanan atau contoh ini bisa dilakukan oleh kepala sekolah, guru, atau staf administrasi di sekolah yang dapat dijadikan model bagi peserta didik.

2.    Kegiatan spontan

Kegiatan spontan adalah kegiatan yang dilaksanakan secara spontan pada saat itu juga. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada saat guru mengetahui sikap atau tingkah laku peserta didik yang kurang baik, seperti meminta sesuatu dengan berteriak, mencoret dinding.

3.    Teguran

Guru perlu menegur peserta didik yang melakukan perilaku buruk dan mengingatkannya agar mengamalkan nilai-nilai yang baik sehingga guru dapat membantu mengubah tingkah laku mereka.

4.    Pengkondisian lingkungan

Suasana sekolah dikondisikan sedemikian rupa dengan penyediaan sarana fisik. Contoh: penyediaan tempat sampah, jam dinding, slogan-slogan mengenai budi pekerti yang mudah dibaca oleh peserta didik, aturan tata tertib sekolah yang ditempelkan pada tempat yang strategis sehingga setiap peserta didik mudah membacanya.

5.    Kegiatan rutin

Kegiatan rutin merupakan kegiatan yang dilakukan peserta didik secara terus-menerus dan konsisten setiap saat. Contoh kegiatan ini adalah berbaris masuk ruang kelas, berdoa sebelum dan sesudah kegiatan, mengucapkan salam bila bertemu dengan orang lain, membersihkan kelas atau belajar.
 
Pengintegrasian dalam kegiatan yang diprogramkan dilaksanakan setelah terlebih dahulu guru membuat perencanaan atas nilai-nilai yang akan diintegrasikan dalam kegiatan tertentu. Hal ini dilakukan jika guru menganggap perlu memberikan pemahaman atau prinsip-prinsip moral yang diperlukan. Misalnya, guru ingin menanamkan rasa kebersamaan, gotong royong, dapat dilakukan dengan mengadakan kerja bakti untuk membersihkan lingkungan sekolah.
 
Apabila semua strategi di atas sudah dijalankan, kemudian sekolah harus mempunyai program yang nyata untuk menilai keberhasilan pendidikan karakter, misalnya membuat kantin kejujuran, agar anak mempunyai kesempatan untuk mempraktikkan nilai kejujuran. Atau dengan membuat indeks penilaian kebersihan, misalnya  dengan menghitung sampah yang tidak dibuang di tempat sampah, dan lain sebagainya.
 
Penerapan pendidikan karakter yang terintegrasi dalam setiap kegiatan sekolah, diharapkan mampu membentuk karakter anak dan secara lebih luas dapat membentuk karakter bangsa, sehingga tidak ada lagi problem moral yang berkepanjangan di  Indonesia.
 

0 Response to "Strategi Menerapkan Pendidikan Karakter di Lembaga Pendidikan Terbaru"