Didukung Mendikbud, Dedi Mulyadi Siap Beberkan Konsep Pendidikan di Purwakarta

Tips Pendidikan - Jakarta, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy mendukung kebijakan Pemerintah Kabupaten Purwakarta yang melarang guru memberikan pekerjaan rumah yang bersifat akademik. Bahkan, Muhadjir meminta daerah lain meniru konsep pendidikan Purwakarta. Muhadjir juga mewacanakan menjadikan hari Sabtu dan Minggu sebagai libur sekolah atau sekolah lima hari dalam seminggu seperti yang telah diterapkan Pemkab Purwakarta sejak 2008 lalu.
Didukung Mendikbud, Dedi Mulyadi Siap Beberkan Konsep Pendidikan di Purwakarta

Didukung Mendikbud, Dedi Mulyadi Siap Beberkan Konsep Pendidikan di Purwakarta

Menanggapi hal ini, Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi berterima kasih pada Muhadjir atas dukungannya. Bupati yang akrab disapa Kang Dedi ini menyatakan kesiapannya membeberkan dasar dan tujuan mengenai berbagai aturan dalam bidang pendidikan yang telah diterapkannya. Tak hanya itu, Dedi pun bersedia menjelaskan secara akademis konsep pendidikan berkarakter yang digagasnya dan telah diterapkan di Purwakarta sejak 2008 lalu.
"Terima kasih kalau Mendikbud mengapresiasi. Secara prinsip saya bersedia memberi penjelasan dari sisi akademik terhadap apa yang saya gagas selama ini," kata Dedi kepada SP, Selasa (13/9).
Larangan untuk memberikan PR akademik yang tercantum dalam Surat Edaran bersamaan dengan larangan menggelar karyawisata merupakan salah satu dari sejumlah kebijakan Pemkab Purwakarta yang terintegrasi dalam Pendidikan Berkarakter. Dedi menuturkan, sejak mulai menjabat sebagai Bupati Purwakarta pada 2008 lalu, pihaknya telah menyelenggarakan pendidikan formal lima hari dari Senin hingga Jumat. Kebijakan ini dimatangkan menjadi program 7 Hari Pendidikan Istimewa yang dirumuskan pada 2013.
Dalam program 7 Hari Pendidikan Istimewa ini, Dedi menjelaskan, pihaknya menerapkan unsur tematik dalam sistem pendidikan menjadi falsafah dalam setiap pembelajaran di sekolah mengacu pada nilai-nilai karakter daerah.
"Tujuh hari dalam seminggu memiliki tema yang berbeda-beda untuk diinternalisasikan kepada seluruh peserta didik di Purwakarta," katanya.
Dipaparkan, setiap Senin, pendidikan di Purwakarta bertemakan Ajeg Nusantara atau Tegaknya Nusantara. Pada hari ini, seluruh pelajaran yang disampaikan kepada peserta didik harus disinergikan dengan nilai-nilai patriotik, potensi dan seluruh fase sejarah yang pernah terjadi di Indonesia bahkan sebelum bernama Indonesia.
"Misalnya begini, untuk pelajaran Bahasa Indonesia tidak lagi mengajarkan 'Ini Budi', atau 'Ini Ayah Budi'. Pelajaran Bahasa Indonesia untuk menjelaskan tentang Indonesia, seperti mengenali Papua. Orangnya seperti apa, kekayaan alamnya seperti apa, dan sejarahnya bagaimana. Sehingga pelajaran Bahasa Indonesia terintegrasi dengan Geografi, dan Sejarah," paparnya.
Sementara pada hari Selasa, pihaknya menerapkan tema Selasa Mapag Buana atau menjemput dunia. Setiap pelajaran yang diajarkan setiap hari Selasa fokus pada pengenalan terhadap berbagai peradaban di dunia. Selanjutnya di hari Rabu, mata pelajaran yang diajarkan di sekolah-sekolah Purwakarta bertemakan Maneuh di Sunda yang berarti menetap di Sunda. Dengan tema ini, para pelajar diajarkan falsafah Sunda termasuk silih asah, silih asih dan silih asuh.
"Bukan hanya kepada sesama manusia melainkan kepada sesama makhluk hidup. Selain kewajiban mengenakan pakaian khas Sunda bagi seluruh siswa, pada hari Rabu pun mereka diajarkan mempelajari sistem mata pencaharian utama masyarakat Sunda yakni bertani di sawah, bercocok tanam di ladang, menjahit, menyulam dan menggembalakan ternak," paparnya.
Di hari Kamis, para pelajar diasah kreatifitasnya dengan tema Nyanding Wawangi. Pada hari ini, para pelajar boleh masuk sekolah tanpa seragam dan sepatu sekolah, tetapi harus membuat karya kreatif seperti puisi, membawa setangkai bunga untuk guru bahkan menuangkan kritik beradab kepada guru yang sehari-hari mengajarnya. Sedangkan di hari Jumat pendidikan di Purwakarta bertemakan Nyucikeun Diri atau mensucikan diri. Seperti temanya, di hari Jumat, kegiatan belajar mengajar di Purwakarta berorientasi pada menyucikan hati dengan mendekatkan diri pada Tuhan.

"Pembelajaran hari Jumat akan dimulai dengan Salat Dhuha bersama yang dilanjutkan pembacaan Surat Yaasin. Selain itu, mereka dituntut untuk turut membersihkan lingkungan dalam dan luar sekolah. Sehingga bukan sekedar dirinya saja yang bersih tetapi lingkungannya pun turut suci dan bersih. Nilai spiritual pun harus dimiliki oleh seluruh pelajar Purwakarta sehingga nilai estetik yang dipupuk pada hari Kamis dapat sempurna dengan nilai spiritual di hari Jum’at," jelas Dedi yang sehari-hari mengenakan pakaian dan iket khas Sunda ini.
Rangkaian 7 Hari Pendidikan Istimewa ini ditutup dengan Sabtu dan Minggu betah di Imah atau betah di rumah. Dengan demikian, setelah lima hari mengikuti pendidikan formal di sekolah, para pelajar akan dibimbing oleh orangtua mereka yang harus berperan aktif mentransformasikan nilai-nilai dalam keluarga kepada anak-anak.
"Ini penting karena pendidikan formal dan informal harus dialami oleh pelajar di Purwakarta. Sabtu dan Minggu itu libur sekolah, tetapi bukan berarti tidak ada pendidikan. Disinilah peran orangtua mengawal perkembangan anak- anak mereka. Intinya internalisasi nilai – nilai dalam keluarga," paparnya.
Dengan konsep ini, lanjut Dedi, pendidikan di Purwakarta berlangsung selama 7 hari dalam seminggu. Lima hari pendidikan formal, dan dua hari pendidikan informal. Dikatakan, seluruh mata pelajaran yang diajarkan para guru ditentukan oleh pihak sekolah mulai dari tingkat dasar hingga sekolah tingkat atas, namun pendekatan dari kegiatan belajar mengajar disesuaikan dengan tema pada hari tersebut.

Sumber : beritasatu.com

0 Response to "Didukung Mendikbud, Dedi Mulyadi Siap Beberkan Konsep Pendidikan di Purwakarta"