Pendidikan Bencana Harus Diajarkan ke Sekolah

Pendidikan Bencana Harus Diajarkan ke Sekolah

Pendidikan Bencana Harus Diajarkan ke Sekolah

Tipspendidikan.site, Mantan Kepala Badan Geologi Surono mengatakan, pendidikan mitigasi bencana sangat diperlukan. Bahkan sebaiknya diajarkan sebagai muatan lokal di sekolah. "Khususnya di daerah-daerah yang rawan bencana alam," kata dia.

Sayangnya, banyak pemda yang belum menaruh perhatian. Dia berharap kejadian bencana gempa bumi di Pidie Jaya, Aceh, menjadi perhatian bersama. Pendidikan atau sosialisasi kebencanaan ternyata sangat penting.

Menurut dia, kesadaran masyarakat untuk belajar bagaimana menghadapi bencana umumnya masih rendah, sehingga dibutuhkan sebuah kebijakan yang dijalankan masing-masing pemerintah daerah (pemda). Pria yang akrab disapa Mbah Rono itu menjelaskan, pemerintah sudah memiliki peta daerah rawan bencana. Bertepatan dengan agenda pilkada serentak 2017, Surono juga mengingatkan kepada para kandidat supaya memasukkan program siaga bencana alam menjadi program kerja saat terpilih nanti.

Sepanjang pengamatannya, program siaga bencana alam belum menjadi isu menarik untuk diusung calon kepala daerah. Dia mengingatkan bahwa alam dan manusia itu harus hidup beriringan. Manusia harus mengetahui sisi positif dan negatif dari alam yang ditempatinya. "Ibarat dua sisi mata uang. Daerah subur memiliki potensi ancaman bencana alam," tutur dia.

Sementara itu, Sekretaris Posko Bencana Gempa Pidie Jaya Muhammadiyah mengaku pemerintah memang belum melakukan penyuluhan kepada warga soal penanggulangan bencana gempa. Satu-satunya sosialisasi dan edukasi yang diadakan adalah penanggulangan bencana tsunami yang dilakukan 10 tahun lalu. "Kalau sekarang kemungkinan anak-anak tidak tahu bagaimana merespons bencana karena saat pelatihan mereka belum lahir," ungkapnya.

Dia juga tak menampik bahwa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pidie Jaya memang masih belum punya regulasi atau sistem khusus untuk menangani gempa. Namun, pria yang juga menjabat sebagai kepala bagian organisasi Pemkab Pidie Jaya itu menegaskan bakal mempertimbangkan usai masa tanggap darurat selesai. "Saat ini fokus untuk menangani korban dan bangunan rusak dulu," jelasnya.

Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial (Linjamsos Kemensos) Harry Hikmat membenarkan bila di daerah Pidie Jaya belum ada kampung siaga bencana. Dia menuturkan, bencana di sisi bagian timur itu sedikit tak terduga. "Kalau di pesisir barat itu sudah. Setelah tsunami langsung kita buat kampung siaga bencana. Ada sekitar 48 kampung siaga bencana," tuturnya.

Mengingat pentingnya hal itu, pihaknya berkoordinasi dengan pemda setempat untuk membuat kampung siaga bencana. Langkah awal, pihaknya akan merekut tim tagana (taruna siaga bencana) baru dari desa setempat. Setelah itu, mereka dilatih untuk bisa tanggap bencana. Seperti mengarahkan warga menuju titik aman bila terjadi bencana. Lalu memiliki buffer stok untuk antisipasi adanya bencana. ”Sehingga nanti mereka lebih siap bila ada ancaman bencana,” tegasnya.

Sementara itu, Kemensos menambah dua posko pengungsian pascagempa di Pidie, Pidie Jaya, dan Bireuen. Dua posko tambahan ini berada di Kabupaten Pidie Jaya yakni Posko Meunasah Juroeng menampung 1.300 jiwa dan Posko Trienggading menampung 700 jiwa. Dengan bertambahnya posko pengungsian ini, total terdapat Sembilan lokasi pengungsian di bawah koordinasi Kemensos. ”Penambahan posko ini atas dasar informasi dari Basarmas dan BNPB bahwa ada beberapa lokasi yang belum mendapat bantuan,” ujar Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa.

Selain itu, posko tambahan ini juga untuk memenuhi kebutuhan warga akan rasa aman dan pemenuhan logistik selama di pengungsian. Menghadirkan rasa aman untuk pengungsi ini menurutnya penting karena sebagian besar dari mereka masih trauma terhadap gempa susulan. ”Hadirnya dua posko tambahan dan dapur umum ini juga agar pengungsi bisa berkumpul di satu titik, sehingga memudahkan pendataan dan penyaluran bantuan,” ungkapnya.

Koordinator Bidang Logistik di Posko Utama Asisten II Kabupaten Pidie Jaya Jailani menambahkan, saat ini penerimaan bantuan disatukan. Posko menyiapkan empat gudang logistik yang berlokasi di ruko dan gudang Bulog di Pidie Jaya. Mekanisme distribusi logistik bantuan dilakukan dengan instruksi pos logistik di Posko Utama yang saat ini berlokasi di Kantor Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU), samping rumah dinas Wakil Bupati Pidie Jaya.

Barang bantuan akan didistribusikan langsung kepada keluarga (KK) terdampak di wilayah gempa yang membutuhkan berdasarkan laporan yang masuk. ”Bantuan logistik dan penerimaan bantuan harus sepengetahuan camat setempat. Tanda terima bantuan oleh pak camat,” ujarnya.

Hingga kini pos logistik terus menerima bermacam bantuan mulai beragam jenis makanan, air kemasan, tikar, selimut, pakaian, kelambu, tenda, dan sebagainya. ’’Posko menyiapkan empat gudang logistik di ruko dan gudang milik Bulog Pidie Jaya,’’ kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho.

Informasi yang diterima Sutopo menyebutkan, korban gempa masih mengharapkan bantuan di antaranya tenda keluarga, tikar, dan selimut serta kelambu. Kondisi ini disebabkan karena masyarakat korban bencana gempa tidak bisa mengungsi jauh dari lokasi tempat tinggal mereka.

Selain berupa barang-barang, posko utama juga menerima bantuan uang tunai. Sutopo menjelaskan, BNPB juga telah menyalurkan bantuan Rp 3,5 miliar di antaranya berupa genset besar dan kecil, velbed, makanan siap saji, lauk pauk, makanan tambahan gizi, dan peralatan dapur. Kemudian tenda gulung, kantong mayat, dan sejenisnya.

Sutopo menambahkan, dalam penanganan pasca bencana ini, tim memberikan perhatian kepada para bayi dan balita di antaranya terus mengutamakan pemberian ASI (Air Susu Ibu) bagi bayi korban bencana. BNPB mencatat ada 63 jiwa bayi dan balita (0-4 tahun) di pos pengungsian Gampung Tu, Kecamatan Pantareja, Pidie Jaya. ’’Selain itu dari 500 jiwa yang ada, 60 di antaranya usia 5-9 tahun,’’ jelasnya.

Sumber : indopos.co.id

0 Response to "Pendidikan Bencana Harus Diajarkan ke Sekolah"